01 April 2013

Home » » Pengertian : "Iman dan Taqwa"

Pengertian : "Iman dan Taqwa"


1. Pengertian : "Iman dan Taqwa" 

Penjelasan Rukun Iman (1): Iman kepada Allah

2. Iman menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah syari‟at yaitu meyakinidengan hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikannya dalam amal perbuatan yangterdiri dari tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan cabang. Yang tertinggi adalahucapan ‫ هلل‬dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan yangmenggangu orang yang sedang berjalan, baik berupa batu, duri, barang bekas, sampah, dansesuatu yang berbau tak sedap atau semisalnya.Rasulullah Shallahu‟alaihi wa sallam bersabda,”Iman lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, paling utamanya perkataan‫ هلل‬dan yang paling rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakancabang dari keimanan.” (Riwayat Muslim: 35, Abu Dawud: 4676, Tirmidzi: 2614)Secara pokok iman memiliki enam rukun sesuai dengan yang disebutkan dalam hadist Jibril(Hadist no. 2 pada hadist arba‟in an-Nawawi) tatkala bertanya kepada Nabi Shallahu‟alaihiwa sallam tentang iman, lalu beliau menjawab,”Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, pararasulNya, hari akhir, dan percaya kepada taqdirNya, yang baik dan yang buruk.”(Mutafaqqun ‘alaihi)Adapun cakupan dan jenisnya, keimanan mencakup seluruh bentuk amal kebaikan yangkurang lebih ada tujuh puluh tiga cabang. Karena itu Allah menggolongkan dan menyebutibadah shalat dengan sebutan iman dalam firmanNya,”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (QS. Al-Baqarah:143) Para ahli tafsir menyatakan, yang dimaksud ‟imanmu‟ adalah shalatmu tatkala engkau menghadap ke arah baitul maqdis, karena sebelum turun perintah shalat menghadap ke Baitullah (Ka‟bah) para sahabat mengahadap ke Baitul Maqdis. Iman kepada AllahIman kepada Allah adalah mempercayai bahwa Dia itu maujud (ada) yang disifati dengansifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, yang suci dari sifat-sifat kekurangan. Dia Maha Esa,Mahabenar, Tempat bergantung para makhluk, tunggal (tidak ada yang setara dengan Dia),Pencipta segala makhluk, Yang melakukan segala yang dikehendakiNya, dan mengerjakandalam kerajaanNya apa yang dikehendakiNya. Beriman kepada Allah juga bisa diartikan,berikrar dengan macam-macam tauhid yang tiga serta beri‟tiqad (berkeyakinan) dan beramaldengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid al-asma‟ wa ash-shifaat.

3. Iman kepada Allah mengandung empat unsur:1. Beriman akan adanya Allah.Mengimani adanya Allah ini bisa dibuktikan dengan:(a). Bahwa manusia mempunyai fitrah mengimani adanya TuhanTanpa harus di dahului dengan berfikir dan sebelumnya. Fitrah ini tidak akan berubah kecualiada sesuatu pengaruh lain yang mengubah hatinya. Nabi Shallahu‟alaihi wa sallam bersabda:”Tidaklah anak itu lahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanya lah yangmenjadikan mereka Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori)Bahwa makhluk tersebut tidak muncul begitu saja secara kebetulan, karena segala sesuatuyang wujud pasti ada yang mewujudkan yang tidak lain adalah Allah, Tuhan semesta alam.Allah berfirman,”Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (dirimereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)Maksudnya, tidak mungkin mereka tercipta tanpa ada yang menciptakan dan tidak mungkinmereka mampu menciptakan dirinya sendiri. Berarti mereka pasti ada yang menciptakan,yaitu Allah yang maha suci.Lebih jelasnya kita ambil contoh, seandainya ada orang yang memberitahu anda ada sebuahistana yang sangat megah yang dikelilingi taman, terdapat sungai yang mengalir disekitarnya, di dalamnya penuh permadani, perhiasan dan ornamen-ornamen indah. Laluorang tersebut berkata kepada anda, istana yang lengkap beserta isinya itu ada dengansendirinya atau muncul begitu saja tanpa ada yang membangunnya. Maka anda pasti segeramengingkari dan tidak mempercayai cerita tersebut dan anda menganggap ucapannya itusebagai suatu kebodohan.

4. Lalu apa mungkin alam semesta yang begitu luas yang dilengkapi dengan bumi, langit,bintang, dan planet yang tertata rapi, muncul dengan sendirinya atau muncul dengan tiba-tibatanpa ada yang menciptakan?(b). Adannya kitab-kitab samawiYang membicarakan tentang adanya Allah. Demikian pula hukum serta aturan dalam kitab-kitab tersebut yang mengatur kehidupan demi kemaslahatan manusia menunjukkan bahwakitab-kitab tersebut berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.(c). Adanya orang-orang yang dikabulkan do‟anya.Ditolongnya orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, ini menjadi bukti-bukti kuatadanya Allah. Allah berfirman:”Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami memperkenankandoanya, lalu kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (QS. Al-Anbiya’: 76)(d). Adanya tanda-tanda kenabian seorang utusanYyang disebut mukjizat adalah suatu bukti kuat adanya Dzat yang mengutus mereka yangtidak lain Dia adalah Allah Azza wa Jalla.Misalnya: Mukjizat nabi Musa ‟Alahissalam. Tatkala belau diperintah memukulkantongkatnya ke laut sehngga terbelahlah lautan tersebut menjadi dua belas jalan yang keringdan air di antara jalan-jalan tersebut laksana gunung. Firman Allah,”Lalu kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Makaterbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar” (QS. Asy-Syu’ara’: 63)Contoh lain adalah mukjizat yang diberikan kepada nabi Isa ‟Alaihissalam berupa membuatburung dari tanah, menyembuhkan orang buta sejak lahirnya dan penyakit sopak (sejenispenyakit kulit), menghidupkan orang mati dan mengeluarkan dari kuburannya atas izin Allah.Allah berfirman:“Sesungguhnya Aku Telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dariTuhanmu, yaitu Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; Kemudian Akumeniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan Aku menyembuhkanorang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan Akumenghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan Aku kabarkan kepadamu apa yang kamumakan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. ” (QS. Ali Imran: 49)2. Mengimani sifat rububiyah Allah (Tauhid Rububiyah)

5. Yaitu mengimani sepenuhnya bahwa Allah-lah memberi rizki, menolong, menghidupkan,mematikan dan bahwasanya Dia itu adalah pencipta alam semesta, Raja dan Penguasa segalasesuatu.3. Mengimani sifat uluhiyah Allah (Tauhid Uluhiyah)Yaitu mengimani hanya Dia lah sesembahan yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengesakanAllah melalui segala ibadah yang memang disyariatkan dan diperintahkan-Nya dengan tidakmenyekutukanNya dengan sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi, wali maupun yanglainnya.Tauhid rububiyah saja tanpa adanya tauhid uluhiyah belum bisa dikatakan beriman kepadaAllah karena kaum musyrikin pada zaman Rasulullah Shallahu‟alaihi wa sallam jugamengimani tauhid rububiyah saja tanpa mengimani tauhid uluhiyah, mereka mengakui bahwaAllah yang memberi rizki dan mengatur segala urusan tetapi mereka juga menyembahsesembahan selain Allah.Allah berfirman,“Katakanlah: „Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakahyang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkanyang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakahyang mengatur segala urusan.‟ Maka, mereka men-jawab: „Allah.‟ Maka, katakanlah:„Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?‟ (QS. Yusuf: 31-32)Dan Allah berfirman,“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaanmempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain ).” (QS. Yusuf : 106)4. Mengimani Asma’ dan Sifat Allah (Tauhid Asma’ wa Sifat)Yaitu menetapkan apa-apa yang Allah dan RasulNya telah tetapkan atas diriNya baik ituberkenaan dengan nama-nama maupun sifat-sifat Allah, tanpa tahrif[4] dan ta‟thil[5] sertatanpa takyif[6] dan tamtsil[7].Dua Prinsip dalam meyakini sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, · Allah Subhanahu wa ta‟ala wajib disucikan dari semua sifat-sifat kurang secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya. · Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah.Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah dan diriseperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam al-Qur‟an. Maka apa yang disebutkan oleh Allahtentang wajah, tangan dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak bolehdireka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinyakekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakan sifat-sifat Allah,

6. sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ahli qadar dan golongan Mu‟tazilah.[8]Beliau juga berkata: “Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan makhluk-Nya juga tidakserupa dengan Allah. Allah itu tetap akan selalu memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya.[9]Allah berfirman,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syuura’: 11)Buah beriman kepada AllahBeriman kepada Allah secara benar sebagaimana digambarkan akan membuahkan beberapahasil yang sangat agung bagi orang-orang beriman, diantaranya: 1. Merealisasikan pengesaan kepada Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut, dan tidak menyembah kepada selain-Nya. 2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan kandungan makna nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya Yang Agung. 3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.Sumber : http://maramissetiawan.wordpress.com/2010/10/11/coretanku-penjelasan-rukun-iman-1-iman-kepada-allah/

7. Difinisi Taqwa MEMAHAMI MAKNA TAQWAPengertian TAQWA secara dasar adalah Menjalankan perintah, dan menjauhi larangan.Kepada siapa ??? maka dilanjukan dengan kalimat Taqwallah yaitu taqwa kepada AllahSWT. Kelihatan kata-kata tersebut ringan diucapkan tapi kenyataan-nya banyak orang yangbelum sanggup bahkan terkesan asal-asalan dalam menerapkan arti kata Taqwa tersebut, lihatsekitar kita ada beberapa orang yang tidak berpuasa dan terang-terangan makan di tempatumum, padahal bila ditanya " mas, agama-nya apa?" jawab-nya muslim, ada juga yang sudahberpuasa tapi masih suka melirik kanan-kiri dan ketika ditanya " mas, ini kan lagi puasa?"jawabnya cuma sebentar kan boleh. Ya... Allah, manusia..., manusia.., sebenarnya banyakcontoh bagaimana lingkungan di sekitar kita atau mungkin diri saya pribadi masih belummampu mengemban amanah Taqwallah dengan sepenuhnya.yuk belajar lagi tentang Taqwa biar sama-sama menyadari bagaimana mengaplikasikan-nya.TAQWA = Terdiri dari 3 HurufTa = TAWADHU artinya sikap rendah dirii (hati), patuh, taat baik kepada aturan AllahSWT, maupun kepada sesama muslim jangan menyombongkan diri / sok.Qof = Qonaah artinya Sikap menerima apa adanya (ikhlas), dalam semua aspek, baik ketikamendapat rahmat atau ujian, barokah atau musibah, kebahagiaan atau teguran dari AllahSWT, harus di syukuri dengan hati yang lapang dada.Wau = Wara artinya Sikap menjaga hati / diri (Introspeksi), ketika menemui hal yangbersifat subhat (tidak jelas hukum-nya) atau yang bersifat haram (yang dilarang) oleh AllahSWT.beberapa ulama mendifinisikan dengan : 1. Taqwa = dari kata = waqa-yaqi-wiqayah = memelihara yang artinya memelihara iman agar terhindar dari hal-hal yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT. 2. Taqwa = Takut yang artinya takut akan murka da adzab allah SWT. 3. Taqwa = Menghindar yang artinya menjauh dari segala keburukan dan kejelekan dari sifat syetan. 4. Taqwa = Sadar yang artinya menyadari bahw diri kita makhluk ciptaan Allah sehingga apapun bentuk perintah-nya harus di taati, dan jangan sekali-kali menutup mata akan hal ini.

8. "Hai Orang-orang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah, dengan sebenar-benar taqwa,dan janganlah kalian mati, melainkan dalam keadaan beragama islam." (Al-Imron : 102)Masih di bulan ramadhan, mudah-mudahan artikel ini bisa menambah rasa iman dan taqwakita khususnya saya sendiri kepada yang maha esa (Allah Subhanallahu Taala).Yuk, teruskan lagi pelajaran dasar-dasar agamanya yang diambil dari cuplikan-cuplikansyiah dari ustadz-ustadz sekitar kita. belajar bareng ya......Sebuah hadits tentang kewajiban belajar, yang menurut beberapa tokoh ulama kurang shahihbahkan dianggap hadits palsu, namun justru terkenal dan mampu mendapatkan voting sertaranking terbanyak dikalangan umat muslim, disebabkan hadits ini bisa memotivasi semangatpantang menyerah, yaitu :"UTHLUBUL ILMA WALAU BISHSHIIN FAINNA THOLABAL ILMI FARIIDHOTUN ALAKULLI MUSLIMIN"(Tuntutlah Ilmu Walau Di Negeri Cina, Karena Mencari Ilmu Itu Wajib Bagi SetiapMuslim) Sumber : http://pras2009.blogspot.com/2009/09/difinisi-taqwa.html

9. Taqwa Di Sisi Allah swt.Hari ini masyarakat berbicara tentang Key Performance Indicator / Petunjuk Prestasi Utama(KPI) bagi mengukur kualiti prestasi dan pencapaian bagi individu atau sesebuahjabatan/organisasi. Begitu sekali usaha manusia bagi menjayakan agenda kehidupan di duniaini. Bagaimana pula dengan KPI kita sebagai muslim? Apakah generasi Rasulullah saw. danpara sahabat memiliki KPI juga?Allah swt. menegaskan di dalam al-Quran bahawa umat Islam adalah generasi terbaik danmenjadi contoh kepada umat lain di bumi ini. Hakikat ini dibuktikan generasi Rasulullah dansahabat selepasnya janji Allah itu benar apabila mereka benar-benar berpegang teguh padaajaran Islam.Justeru, bukan perkara mustahil bagi umat Islam kini untuk kembali memahami senarailengkap KPI para sahabat Rasulullah saw. sehingga mereka diiktiraf sebagai sebaikumat. Kuncinya kejayaan mereka adalah dengan memiliki taqwa yang jitu dan ampuh.Allah swt.. telah berfirman yang bermaksud:Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang palingbertaqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.”(Al-Hujurat:13)“Sesungguhnya Kami telah berwasiat (memerintahkan) kepada orang-orang yang diberikitab sebelum kamu dan juga kepada kamu, bertaqwalah kepada Allah.” (An Nisa: 131)Taqwa juga adalah wasiat Rasulullah SAW kepada umatnya. Baginda bersabda yangmaksudnya:“Aku berwasiat kepada kamu semua supaya bertaqwa kepada Allah, serta dengar dan patuhkepada pemimpin walaupun dia seorang hamba Habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidupselepas aku kelak, dia akan melihat pelbagai perselisihan. Maka hendaklah kamu berpegang

10. kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk selepasku.” (RiwayatAhmad, Abu Daud, Termizi dan Majah)Sabda Baginda lagi, Maksudnya:“Hendaklah kamu bertaqwa di mana sahaja kamu berada. Ikutilah setiap kejahatan (yangkamu lakukan) dengan kebaikan, moga-moga kebaikan itu akan menghapuskan kejahatan.Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (Riwayat At Termizi dan Ahmad)Taqwa berasal dari kata Waqa, Yaqi, Wiqayatan, yang bererti perlindungan. Taqwa berertimelindungi diri dari segala kejahatan dan kemaksiatan. Pengertian taqwa diantaranya adalah“Imtitsalu awamiriLLAH wa ijtinabu nawahiHi” atau melaksanakan perintah-perintah Allahdan menjauhi segala larangan-Nya.Dalam suatu riwayat yang sahih disebutkan bahawa Umar bin Khattab r.a. bertanya kepadasahabat Ubay bin Ka‟ab r.a. tentang taqwa.Ubay bertanya kembali, “Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?”“Ya”, jawab Umar“Apa yang anda lakukan saat itu?”“Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.”“Itulah taqwa.” kata Ubay bin Ka‟ab r.a.Berdasar dari jawaban Ubay atas pertanyaan Umar, Sayyid Quthub berkata dalam tafsir Azh-Zhilal,“Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus selalu waspadadan hati-hati jangan sampai sampai terkena duri jalanan… Jalan kehidupan yang selaluditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhuatiran dankeraguan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak wajar untuk ditakuti… dan masih banyakduri-duri yang lainnya.”Dr. Abdullah Nashih Ulwan menyatakan dalam buku Ruhaniyatud Daiyah, berkata“Taqwa lahir dari proses dari keimanan yang kukuh, keimanan yang selalu dipupuk denganmuraqabatullah, merasa takut dengan azab Allah serta berharap atas limpahan kurnia danmaghfirahnya.”Sayyid Quthub juga berkata“Inilah bekal dan persiapan perjalanan…bekal ketaqwaan yang selalu menggugah hati danmembuatnya selalu terjaga, waspada, hati-hati serta selalu dalam konsentrasi penuh… Bekalcahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang yangbertaqwa tidak akan tertipu oleh bayangan sesuatu yang menghalangi pandangannya yangjelas dan benar… Itulah bekal penghapus segala kesalahan, bekal yang menjanjikankedamaian dan ketenteraman, bekal yang membawa harapan atas kurnia Allah; di saatbekal-bekal lain sudah sirna dan semua amal tak lagi berguna…”Taqwa diperoleh dari ibadah yang ikhlas dan lurus kepada Allah SWT.. Orang-orang yangbertaqwa akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.. Firman Allah swt. yang bermaksud:“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang lelakidan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
11. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(Al-Hujurat: 13)Kemuliaan bukan terletak samada dia lelaki atau perempuan, kehebatan suku bangsa danwarna kulit, namun kerana ketaqwaannya. Mereka yang bertaqwa adalah orang yangsenantiasa beribadah dengan rasa cinta, penuh harap kepada Allah, takut kepada azabNya,ihsan dalam beribadah, khusyuk dalam pelaksanaannya, penuh dengan doa. Allah swt. jugamenyebutkan bekal hidup manusia dan pakaian yang terbaik adalah taqwa.Dr. Abdullah Nashih Ulwan menyebut ada 5 langkah yang dapat dilakukan untuk mencapaiKPI taqwa, iaitu ;1. Mu’ahadahMu‟ahadah berarti selalu mengingat perjanjian kepada Allah swt., bahawa dia akan selaluberibadah kepada Allah swt. Seperti merenungkan sekurang-kurangnya 17 kali dalam seharisemalam dia membaca ayat surat Al Fatihah : 5 “Hanya kepada Engkau kami beribadah danhanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”Dalam perjanjian itu, manusia mengakui Allah pencipta sekalian manusia dan juga pentadbirmutlak alam semesta. Perjanjian itu kemudian dirakamkan Allah melalui firman-Nya yangbermaksud:"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam(turun temurun) dari (tulang) belakang manusia, dan Dia jadikan mereka saksi terhadap dirimereka sendiri (sambil Dia bertanya dengan firman-Nya): Bukankah Aku Tuhan kamu?Mereka semua menjawab: Benar, (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi. Yangdemikian itu supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat: Sesungguhnya kami lalai (tidakdiberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini." (Surah al-A’raf, ayat 172)2. MuraqabahMuraqabah berarti merasakan kebersamaan dengan Allah swt. dengan selalu menyedaribahawa Allah swt. selalu bersama para makhluk-Nya dimana saja dan pada waktu apa sahaja.Terdapat beberapa jenis muraqabah, pertamanya muraqabah kepada Allah swt. dalammelaksanakan ketaatan dengan selalu ikhlas kepadaNya. Kedua muraqabah dalamkemaksiatan adalah dengan taubat, penyesalan dan meninggalkannya secara total. Ketiga,muraqabah dalam hal-hal yang mubah adalah dengan menjaga adab-adab kepada Allah danbersyukur atas segala nikmatNya. Keempat muraqabah dalam mushibah adalah dengan redha.atas ketentuan Allah serta memohon pertolonganNya dengan penuh kesabaran.3. MuhasabahMuhasabah sebagaimana yang ditegaskan dalam Al Quran surat Al Hasyr: 18,“Wahai orang-orang yang beriman! Takwalah kepada Allah dan hendaklah merenungkansetiap diri, apalah yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan takwalah kepada Allah!Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa jua pun yang kamu kerjakan”Ini bermakna hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya tatkala selesai melakukan amalperbuatan, apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan redha. Allah? Atau apakah amalnyadicampuri sifat riya? Apakah ia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?

12. Umar bin Khattab r.a. berkata,”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah dirikalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (harikiamat). Di hari itu kamu dihadapkan pada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amalkalian barang sedikitpun.”4. Mu’aqabahMu‟aqabah ialah memberikan hukuman atau denda terhadap diri apabila melakukankesilapan ataupun kekurangan dalam amalan. Mu‟aqabah ini lahir selepas Muslim melakukanciri ketiga iaitu muhasabah. Hukuman ini bukan bermaksud deraan atau pukulanmemudaratkan, sebaliknya bermaksud Muslim yang insaf dan bertaubat berusahamenghapuskan kesilapan lalu dengan melakukan amalan lebih utama meskipun dia berasaberat.dalam Islam, orang yang paling bijaksana ialah orang yang sentiasa bermuhasabah diridan melaksanakan amalan soleh. Disebutkan, Umar bin Khattab pergi ke kebunnya. Ketikapulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan solat Asar berjamaah. Makabeliau berkata,”Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah solatAsar. Kini kebunku aku kujadikan sedekah untuk orang-orang miskin.”Suatu ketika Abu Thalhah sedang solat, di depannya lewat seekor burung lalu ia melihatnyadan lalai dari solatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau solat. Kerana kejadiantersebut beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang miskin sebagai dendaterhadap dirinya atas kelalaian dan ketidakkhusyukannya.5. MujahadahMakna mujahadah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ankabut ayat 69 adalah apabilaseorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakanamal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksadirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Dalam hal ini ia harustegas, serius dan penuh semangat sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaanyang mulia baginya dan menjadi sikap yang melekat dalam dirinya.Sebagai penutup, Allah swt. telah berfirman dalam Al-Quran yang bermaksud:“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benartaqwa, dan janganlah kamu mati melainkan di dalam keadaan Islam”. (‘Ali Imran: 102)Semoga kita lebih serius membangunkan KPI TAQWA dalam kehidupan kita.Sumber : http://halaqahmuntijah.wordpress.com/2010/10/08/kpi-muslim-taqwa-di-sisi-allah-swt/Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...Itu hanyalah dari kami...dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... aminWassalam...Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... aminSilahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...Lampirkan sumbernya ya... syukron

13. Taqwa: Pengertian dan Kepentingannya:Di saat kita sedang menjalani ibadat puasa, yang antara metlamatnya adalah untuk membentukinsan yang bertaqwa, ada baiknya dibincangkan secara ringkas mengenai taqwa, sekurang-kurangnya untuk memberi gambaran umum mengenainya.Pengertian:Terdapat ungkapan yang berbagai bagi menjelaskan pengertian taqwa itu, namun ia merujuk kepadapengertian yang satu iaitu seseorang hamba mengambil perlindungan dari kemurkaan Allah danazabNya dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.Ibnu Rejab berkata: Taqwa pada asalnya adalah seseorang menjadikan pelindung antaranya denganperkara yang ditakuti sebagai perisai. Hamba yang berbertaqwa kepada Tuhannya ialah hamba yangmenjadikan antaranya dengan apa yang ditakuti dari Tuhannya dari kemurkaan,kemarahan danbalasanNya suatu pelindung iaitu dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi bermaksiatkepadaNya.Ibn al-Qayyim pula berkata: Hakikat taqwa itu adalah mengerjakan taat dengan penuh keimanan danpengharapan samada perintah atau larangan, melakukan apa yang diperintah dalam keadaanberiman dengan apa yanag diperintah dan membenarkan janjinya, juga meninggalkan apa jua yangdilarang dalam keadaan beriman akan larangan itu dan membenarkan amaran serta ancamanNya.Talaq bin Hubayb perkata: Apabila berlaku fitnah padamkanlah dengan taqwa. Lalu ada yangbertanya:Apakah taqwa: Jawabnya: Mentaati Allah dengan nur Allah dan mengharapkan ganjaranpahala dari Allah dan meninggalkan maksiat dengan nur Allah takutkan balasan dari Allah. Inilahungkapan terbaik mengenai batasan taqwa.Abdullah bin Mas`ud berkata semasa menjelaskan ayat( ( ‫]201:عمر ن آل‬berkata: Taat tidak derhaka, ingat jangan lupa, syukur bukan kufur. Dan diperjelaskan oleh Ibn Rejabdengan mengatakan mensyukuri Allah itu merangkumi semua ketaatan, adapun maksud dari ingatdan tidak lupa ialah seseorang hamba mengingati Allah dengan hatinya akan semua perintah Allahdalam segala gerak dan diamnya serta perkataannya.Amir al-Mu`minin Umar bin al-Khattab telah bertanya Ubay bin Kaab: Apakah taqwa? Ubaymenjawab: Ya Amir al-Mu`minin! Pernahkah anda melalui jalan yang ada padanya duri? Jawab

14. Umar: Ya! Ubay bertanya lagi: Apakah yang anda lakukan? Saya akan angkat kaki saya dan akanmelihat tempat yang akan saya akan pijakkan kaki dan beringat-ingat bimbang kaki saya akanterpijak duri itu. Jelas Ubay: Itulah taqwa!Amir al-Mu`minan Ali bin Abi Talib KWJ juga ditanya mengenai taqwa lalu jawabnya: Takut kepadaAllah, beramal dengan apa jua yang diturunkan, redha dengan agihan rezeki yang sedikit, bersediauntuk hari keberangkatan (kematian).Beliau juga berkata: Meletakkan diri dalam perkara yang diperintah dan mengelakkan diri dariperkara yang terlarang.Al-Khusyairi: Hakikat taqwa ialah berlindung dari azab Allah dengan melakukan ketaatan.Al-Jurjani: Maksud taqwa dalam ketaatan ialah ikhlas, maksud taqwa terhadap maksiat ialahmenjauhinya dan berwaspada.Beliau juga berkata: Taqwa bermakna menghindarkan segala perkara yang menjauhkan diri dariAllah.Al-Fairuz Abadi: menjaga diri dari sesuatu yang mendatangkan dosa. Kesempurnaan takwa denganmeninggalkan sebahagian dari perkara yang harus dan perkara yang boleh memudaratkan agama.Tempat taqwa adalah di hati akan tetapi bukti dari apa yang ada dihati adalah tindakan zahir.Dengan itu mereka yang mendakwa ia bertaqwa sedangkan amalannya bertentangan denganperkataannya, ternyata ia berdusta.Kepentingan Taqwa:Peri pentingnya taqwa begitu ketara sekali apabila Allah SAW telah berpesan dengannya untuksemua makhluknya, yang awal dan yang akhir. FirmanNya: ‫ن‬ ‫من‬ ‫ن‬ ‫ن ر ن‬ ‫م‬ ‫م م‬ ‫ن ر‬ ‫م‬Dan demi sesungguhnya, Kami telah perintahkan orang-orang yang diberi Kitab dahulu daripadakamu, dan juga (perintahkan) kamu, iaitu hendaklah bertaqwa kepada Allah; dan jika kamu kufuringkar, maka (ketahuilah) Sesungguhnya Allah jualah yang memiliki segala yang ada di langit danyang ada di bumi; dan (ingatlah) adalah Allah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. (Surah al-Nisa: 131).Malah ia juga merupakan pesanan para Rasul (`alaihim al-salam). Perhatikan ayat-ayat berikut: ‫ل )321( مر ن ع‬ ‫ن‬(Kaum `Ad telah mendustakan Rasul-rasul (yang diutus kepada mereka). Ketika saudara mereka -Nabi Hud, berkata kepada mereka: "Hendaknya kamu bertaqwa dengan mematuhi perintah Allahdan menjauhi laranganNya.).(Surah al-Syu`ara`: (123-124).Firman Allah: ‫ل )141( مر ن م‬ ‫ن‬

15. Kaum Thamud telah mendustakan Rasul-rasul (yang diutus kepada mereka).Ketika saudara mereka -Nabi soleh, berkata kepada mereka: "Hendaknya kamu bertawa dengan mematuhi perintah Allahdan menjauhi laranganNya.(Surah al-Syu`ara: 141-142).Firman Allah: ‫ل )061( مر ن‬ ‫ن‬Kaum Nabi Lut telah mendustakan Rasul-rasul (yang diutus kepada mereka).Kketika saudara mereka- Nabi Lut, berkata kepada mereka: "Hendaknya kamu bertaqwa dengan mematuhi perintah Allahdan menjauhi laranganNya.(Surah al-Syu`ra’: 160-161);Firman Allah: ‫ل )671( مر ن‬ ‫ن‬(Penduduk "Aikah" telah mendustakan Rasul-rasul (yang diutus kepada mereka). Ketika Nabi Syuaibberkata kepada mereka: "Hendaknya kamu mematuhi perintah Allah dan menjauhi laranganNya.(Surah al-Shu`ra’: 176-177).Firman Allah: ‫ر‬ ‫نم‬ ‫من‬ (10) ‫رع ن‬ ‫ن‬(Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Tuhanmu menyeru Nabi Musa: "Hendaklah engkau mendatangikaum yang zalim, iaitu kaum Firaun; tidakkah mereka mahu bertaqwa? (Surah al-Syu`ra’: 10-11).Malah ia juga wasiat dan pesanan Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Sadabin `Ajlan al-Bahili dimana Rasulullah SAW berpesan dalam Khutbah Haji Perpisahan. Sabdanya:{ ‫ر‬ ، ‫م‬ ‫م‬ ، ‫ر‬ ‫،ز ة‬ ‫م‬ ، ‫مر ء‬ ‫ج‬ ‫.} ر‬“Bertaqwalah kepada Tuhan kamu, solatlah lima waktu kamu, berpuasalah (bulan Ramadhan) kamu,tunaikanlah zakat hartamu, taatilah pemerintah kamu lalu masuklah syorga Tuhanmu”.Dalam hadith yang diriwayatkan dari Irbadh bin Sariyah Rasulullah SAW juga pernah bersabda:“Saya berpesan kepada kamu dengan bertaqwa kepada Allah”Malah sudah menjadi tradisi di kalangan para sahabat dan generasi selepas mereka berpesandengan takwa ini juga kepada anak-anak mereka.Malah taqwa adalah sebaik-baik pakaian. 

16. Firman Allah: ‬Dan pakaian yang berupa taqwa itulah yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah dari tanda-tanda (limpah kurnia) Allah (dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya) supaya merekamengenangnya (dan bersyukur). (Surah al-A`raf:26)Malah ia juga adalah sebaik-baik-baik bekalan.Firman Allah: ‫ر ن ز‬ ‫ز‬Sesungguhnya sebaik-baik bekal itu ialah taqwa (dengan memelihara diri) dan bertaqwalahkepadaKu wahai orang-orang yang berakal (yang dapat memikir dan memahaminya).Rasulullah SAW bersabda:‫الث‬ ‫الث ، م‬ ‫ل،م ج‬ : ‫الث‬ ‫:م‬ ‫،م ع‬ ‫،م ع‬ ‫مرء عج‬ .‫الث‬ ‫:م ج‬ ‫ر‬ ‫ال‬ ، ‫ر‬ ‫ل ، غ‬ ‫غض‬ ‫رض‬“Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara penyelamat: Sifat kikir yang dipatuhi, hawanafsu yang dituruti, kagum dengan diri sendiri; Tiga penyelamat ialah takutkan Allah secara rahsiadan terang-terangan, an dan berhemat semasa fakir dan senang, adil semasa marah dan redha.(Silsilat al-Sahihah, 1802)Rasulullah SAW juga ada bersabda: ‫م‬ ‫ع‬ ‫م‬“Bertaqwalah kepada Allah dimana sahaja kamu berada, susulilah keburukan dengan kebaikan,necaya ia dapat memadamkannya”.Menyusul: Bagaimana jngin menjadi muttaqin?Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. tentang apaitu taqwa. 

17. Beliau menjelaskan bahwa taqwa itu adalah :
1. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.2. Beramal dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupansehari-hari seorang manusia.3. Redha dengan yang sedikit, ini berkaitan dengan rezeki. Bila mendapat rezeki yangbanyak, siapa pun akan redha tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disedari adalah bahawarezeki tidak semata-mata yang berwujud uang atau materi.4. Orang yg menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya adalah hidup sesudahmati.Al- Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yangdiharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga berertikewaspadaan, menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.Seorang sahabat Rasulullah SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelastentang hakikat taqwa. Pada waktu itu, Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentangapa itu taqwa. Ubay balik bertanya : “Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yangpenuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umarmenjawab: “Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duriitu.” Ubay menimpali : “Itulah (contoh) taqwa.”Menghadapi duri di jalanan saja sudah takut, apalagi menghadapi siksaan api neraka diakhirat kelak, seharusnya kita lebih takut lagi. Permasalahan yang dihadapi biasanya adalah“duri” semacam apakah yang dihindari oleh orang-orang bertaqwa itu dan sejauh manakahkita mampu untuk menghindari “duri” itu.Syekh Abdul Qadir pernah memberikan nasihat :”Jadilah kamu bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersamadengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka tentu iaakan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melewati batas.”Seseorang yang bertaqwa akan meninggalkan dosa-dosa, baik kecil maupun besar. Baginyadosa kecil dan dosa besar adalah sama-sama dosa. Ia tidak akan memandang remeh dosa-dosakecil, kerana gunung yang besar tersusun dari batu-batu yang kecil (kerikil). Dosa yang kecil,jika dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi dosa besar.Tidak hanya hal-hal yang menyebabkan dosa saja yang ditinggalkan oleh orang-orangbertaqwa, hal-hal yang tidak menyebabkan dosa pun, jika itu meragukan, maka ditinggalkanpula dengan penuh keikhlasan.Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa orang bertaqwa adalah orang yang telahmenjadikan tabir penjaga antara dirinya dan neraka. Pernyataan ulama besar salaf inimemiliki kandungan yang lebih spesifik lagi. Orang bertaqwa berarti dia telah mengetahuihal-hal apa saja yang menyebabkan Allah murka dan menghukumnya di neraka. Selain itu, iajuga harus mengetahui batasan-batasan (aturan-aturan) Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

18. Di sinilah peran penting dari perintah Rasul SAW untuk menuntut ilmu dari mulai lahirhingga liang lahad. Ketaqwaan sangat memerlukan landasan ilmu yang benar dan lurus,sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT sangat mencela kepada orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang batasan-batasan yang telah disampaikankepada Rasul-Nya. Hal ini sejalan pula dengan firman Allah bahwa Alah akan meninggikanorang-orang berilmu beberapa darjat.Dalam perjalanan meraih darjat taqwa diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untukmelawan hawa nafsu, bisikan syaithaniyah yang sangat halus dan sering membuat manusiaterpedaya. Sikap istiqamah dalam memegang ajaran Allah sangat diperlukan gunamenghantarkan kita menuju darjat taqwa.Sumber: http://sicksolemnsoul.blogspot.com/2011/05/definisi-taqwa.html

19. DALIL2 PERINTAH BERTAQWATaqwa merupakan perintah yang wajib atas setiap orang Islam. Setiap orang beriman diperintahkanoleh Allah dengan benar2 bertaqwa kepada Allah. Dalil2 Al-Quran dan Hadis Nabi berkenaan“TAQWA” serta kewajipan “BERTAQWA” terlalu banyak , diantaranya …….Firman Allah :“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya”. *Al-Imran (3) : 102]Firman Allah :“Katakanlah (wahai Muhammad): Tidak sama yang buruk dengan yang baik, walaupun banyaknyayang buruk itu menarik hatimu. Oleh itu bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yangberakal fikiran, supaya kamu berjaya.[Al-Maedah (5) : 100 ]Firman Allah :“….Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang palingbertaqwa diantara kalian…” [alHujurat (49) : 13]Sabda Nabi ‫ع‬ :Dari Ibnu Mas’ud ‫ضي‬ bahwa Rasulullah ‫ص‬ sering mengucapkan, “YaAllah aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dan kecukupan.” (Muslim)Sabda Rasulullah ‫ع‬ : :Wasiat Nabi ‫ص‬ kepada Muadz bin Jabal ‫ضي‬ , “Bertaqwalah kamukepada Allah di mana pun kamu berada, tampallah keburukan dengan kebaikan niscaya akandapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (Ahmad, At-Tirmidzi)

20. Sabda Nabi ‫ع‬Dari Abu Hurairah , ‫ضي‬ , Nabi ‫ص‬ ditanya tentang penyebab yangpaling banyak memasukkan orang ke dalam surga, maka Baginda menjawab, “Bertaqwa kepadaAllah dan akhlak yang baik. Dan ketika ditanya tentang sesuatu yang paling banyakmenjerumuskan orang ke dalam neraka Baginda menjawab, ”Mulut dan Kemaluan.” (at-Tirmidzi,)Sabda Rasulullah ‫ع‬ :” Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan mencapai derajat ketaqwaan sehingga iameninggalkan apa yang tidak dilarang (barang yang harus atau halal) supaya tidak terjerumuspada hal- hal yang dilarang ” ( Hadis Hasan ; riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi ) .>>>>>>>>>>Perintah Allah dan dalil2 Hadis Nabi menunjukkan Taqwa membawa kepada kejayaan, sertakebahagiaan abadi diakhirat kelak. Juga menegaskan kedudukan dan ketinggian seseorang disisiAllah adalah berdasarkan Taqwanya, bukan rupa paras atau keturunannya.Semoga Allah menghimpunkan kita bersama2 orang2 yang bertaqwa.

21. Pengertian TAQWÂ (Takwa)Feb 13Posted by effendy akmalSecara etimologis kata ini merupakan bentuk masdar dari kata ittaqâ–yattaqiy ( - ),yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Sementara pakar berpendapatbahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan “berjaga-jaga atau melindungi diri darisesuatu”. Kata taqwa dengan pengertian ini dipergunakan di dalam al-Quran, misalnya padaQS. Al-Mu‟min [40]: 45 dan Ath-Thûr [52]: 27. Kata ini berasal dari kata waqâ–yaqi–wiqayah ( - - ), yang berarti “menjaga diri, menghindari, dan menjauhi”, yaitumenjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. Penggunaan bentukkata kerja waqâ ( ) dapat dilihat antara lain dalam QS. Al-Insân [76]: 11, Ad-Dukhân[44]: 56, dan Ath-Thûr [52]: 28. Penggunaan bentuk ittaqâ( ) dapat dilihat antara lain didalam QS. Al-A„râf [7]: 96. Kata taqwâ ( ) juga bersinonim dengan kata khaûf ( )dan khasyyah ( ) yang berarti “takut”. Bahkan, kata ini mempunyai pengertian yanghampir sama dengan kata taat. Kata taqwâ yang dihubungkan dengan kata thâ„ah ( ) dankhasyyah ( ) digunakan al-Quran dalam QS. An-Nûr [24]: 52.Dalam istilah syar„i (hukum), kata taqwâ mengandung pengertian “menjaga diri dari segalaperbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah Swt. dan melaksanakansegala yang diperintahkan-Nya”.Di dalam al-Quran kata ini disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam konteks yangbermacam-macam. Kata ini dalam bentuk kata kerja lampau (fi„l mâdhi) ditemukan sebanyak27 kali, yaitu dengan bentuk ittaqâ ( ) sebanyak 7 kali, antara lain dalam QS. Al-Baqarah[2]: 189; dalam bentuk ittaqaw ( ) sebanyak 19 kali, seperti dalam QS. Al-Mâ‟idah [5]:93; dan dalam bentuk ittaqaytunna ( ) hanya satu kali, ditemukan dalam QS. Al-Ahzâb[33]: 32. Dalam bentuk-bentuk seperti di atas, kata taqwâ pada umumnya memberi gambaranmengenai keadaan, sifat-sifat, dan ganjaran bagi orang-orang bertakwa. Kata taqwâ yangdiungkapkan dalam bentuk kata kerja masa sekarang (fi„l mudhâri„) ditemukan sebanyak 54kali. Dalam bentuk ini, Al-Quran menggunakan kata itu untuk: (1) menerangkan berbagaiganjaran, kemenangan, dan pahala yang diberikan kepada orang yang bertakwa, seperti dalamQS. Ath-Thalâq [65]: 5; (2) menerangkan keadaan atau sifat-sifat yang harus dimiliki olehseseorang sehingga ia diharapkan dapat mencapai tingkat takwa, yang diungkapkan bentukla„allakum tattaqûn ( = semoga engkau bertakwa), seperti dalam QS. Al-Baqarah[2]: 183; dan (3) menerangkan ancaman dan peringatan bagi orang-orang yang tidakbertakwa, seperti dalam QS. Al-Mu‟minûn [23]: 32.Kata taqwâ yang dinyatakan dalam kalimat perintah ditemukan sebanyak 86 kali, 78 kali diantaranya mengenai perintah untuk bertakwa yang ditujukan kepada manusia secara umum.Obyek takwa dalam ayat-ayat yang menyatakan perintah takwa tersebut bervariasi, yaitu: (1)Allah sebagai obyek ditemukan sebanyak 56 kali, misalnya pada QS. Al-Baqarah [2]: 231dan Asy-Syu„arâ‟ [26]: 131; (2) Neraka sebagai obyeknya dijumpai sebanyak 2 kali, yaitupada QS. Al-Baqarah [2]: 24 dan ‫آ‬li „Imrân [3]: 131; (3) Fitnah/siksaan sebagai obyek takwadidapati satu kali, yaitu pada QS. Al-Anfâl [8]: 25; (4) Obyeknya berupa kata-kata rabbakum

22. ( ), al-ladzî khalaqakum ( ), dan kata-kata lain yang semakna berulangsebanyak 15 kali, misalnya di dalam QS. Al-Hajj [22]: 1.Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali)obyeknya adalah Allah, dan hanya 4 kali yang obyeknya bukan Allah melainkan neraka, harikemudian, dan siksaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicaramengenai takwa di dalam Al-Quran pada dasarnya yang dimaksudkan adalah ketakwaankepada Allah Swt. Perintah itu pada dasarnya menunjukkan bahwa orang-orang yang akanterhindar dari api neraka dan siksaan hari kemudian nanti adalah orang-orang yang bertakwakepada Allah Swt.Kata taqwâ yang dinyatakan dalam bentuk mashdar, ditemukan di dalam al-Quran sebanyak19 kali. Yang diungkapkan dalam bentuk tuqât ( ) sebanyak 2 kali dan dalam bentuktaqwâ ( ) sebanyak 17 kali. Dalam bentuk ini kata taqwâ pada umumnya digunakan al-Quran untuk: (1) menggambarkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan harus didasarkanatas ketakwaan kepada Allah Swt, seperti dalam QS. Al-Hajj [22]: 37; dan (2)menggambarkan bahwa takwa merupakan modal utama dan terbaik untuk menuju kehidupanakhirat.Takwa kepada Allah merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan. Takwa kepada Allah,menurut Muhammad Abduh, adalah menghindari siksaan Tuhan dengan jalan menghindarkandiri dari segala yang dilarang-Nya serta mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya. Hal ini,lanjutnya, hanya dapat terlaksana melalui rasa takut dari siksaan yang menimpa dan rasatakut kepada yang menjatuhkan siksaan, yaitu Allah. Rasa takut itu pada mulanya timbul darikeyakinan tentang adanya siksaan. Perintah dan larangan Allah dapat dikategorikan dalamdua kelompok, yaitu (1) Perintah dan larangan yang berkaitan dengan alam raya, yangdisebut hukum-hukum alam, seperti dinyatakan dalam QS. Fushshilat [41]: 11, misalnya apimembakar atau bulan berputar mengelilingi bumi; dan (2) Perintah dan larangan yangberkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama yang ditujukan kepada manusia, seperti perintahmelakukan shalat yang dinyatakan dalam QS. Al-Isrâ‟ [17]: 78. Kumpulan dari perintah danlarangan ini dinamakan hukum-hukum syariat. Sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukumalam akan diperoleh di dunia, sedangkan sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum syariatakan diperoleh di akhirat. Dengan demikian, ketakwaan mempunyai dua sisi, yaitu sisiduniawi dan sisi ukhrawi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri denganhukum-hukum alam, sedangkan sisi ukhrawi yakni memperhatikan dan melaksanakanhukum-hukum syariat.Takwa sebagai upaya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hanya dapatterwujud oleh dorongan harapan memperoleh kenikmatan surgawi serta rasa takut terjerumuske dalam neraka. Karenanya, sebagian ulama menggambarkan takwa sebagai gabungan diantara harapan dan rasa takut.Ketakwaan yang dinyatakan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah yang dapat disaksikansecara lahiriah merupakan perwujudan keimanan seseorang kepada Allah Swt. Iman yangterdapat di dalam dada diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah. Oleh sebab itu,kata taqwâ dalam al-Quran sering dihubungkan dengan kata îmân ( ), seperti dalam QS.Al-Baqarah [2]: 103, Al-A„râf [7]: 96, ‫آ‬li „Imrân [3]: 179, Al-Anfâl [8]: 29, dan Muhammad[47]: 36.

23. Al-Quran menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqî ( ), jamaknya muttaqîn( ), yang berarti “orang yang bertakwa”. Kata tersebut disebut al-Quran sebanyak 50kali. Kata ini digunakan al-Quran untuk (1) Menggambarkan bahwa orang-orang yangbertakwa dicintai oleh Allah Swt. dan di akhirat nanti akan diberi pahala dan tempat yangpaling baik (surga), seperti yang diungkapkan dalam QS. ‫آ‬li „Imrân [3]: 76, Adz-Dzâriyât[51]: 15, dan Ad-Dukhân [44]: 51; (2) Menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwaadalah orang-orang yang mendapat kemenangan, seperti diungkapkan dalam QS. An-Naba‟[78]: 31; (3) Menggambarkan bahwa Allah merupakan pelindung (wali) bagi orang-orangyang bertakwa, seperti diungkapkan dalam QS. Al-Jâtsiyah [45]: 19; dan (4) Menggambarkanbahwa beberapa kisah yang terjadi merupakan peringatan dan teladan bagi orang-orang yangbertakwa, seperti yang diungkapkan dalam QS. Al-Anbiyâ‟ [21]: 48 dan Al-Hâqqah [69]: 48.Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Al-Quran hanya menyebutkan beberapa cirinya, antara lain dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2-5.Selanjutnya, dijelaskan dalam QS. ‫آ‬li „Imrân [3]: 132-135.Ciri-ciri orang bertakwa menunjukkan suatu kepribadian yang benar-benar utuh dan integral,sebagaimana dinyatakan di dalam QS. Al-Hujurât [49]: 13. Penggunaan kata atqâkum( ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa taqwâ mempunyai tingkatan-tingkatan.Perbedaan tingkatan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas keimanan dan ketaatanseseorang dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah Swt, tidak hanya ketika merekadi akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan merekadisebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitanyang dihadapinya (QS. Ath-Thalâq [65]: 2); (2) Dimudahkan segala urusannya (QS. Ath-Thalâq [65]: 4); (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A„râf [7]:96); (4) Dianugerahi furqân ( ), yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak danbathil (QS. Al-Anfâl [8]: 29; dan (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya(QS. Al-Hadîd [57]: 28 dan Al-Anfâl [8]: 29). (Hasan Zaini)(Sumber: http://www.psq.or.id/ensiklopedia)Pengertian Iman dan TaqwaPengertian ImanDalam hadist di riwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati,diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Iimaanu ‘aqdun bil qalbiwaiqraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan ataukeselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangandan sikap hidup atau gaya hidup.Pengertian TakwaKata takwa ( ) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja ( ) yang memilikipengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahanimenyatakan: Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti,

24. kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’I adalah menjaga diridari perbuatan dosa. Takwa adalah amalan hati dan letaknya di kalbu. “Demikianlah (perintahALLAH). Dan barang siapa mengagungkan syiar – syiar ALLAH maka sesungguhnya itu timbul dariketakwaan hati. (QS 22:32).Keimanan dan ketakwaan seorang muslim adalah kunci agar mendapatkan ridho dan barokah dariAllah SWT. Iman Islam dalam diri seorang muslim harus dibarengi dengan takwa. Bila seorangmuslim percaya dengan keberadaan Allah, maka tentunya ia takut kepada Allah. Itulah yangdinamakan takwa.I. Takwa Dalam Perspektif Para SufiSesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah, ialah yang palingtakwa (Al Hujurat, 49:13)Untuk memahami pesan-pesan takwa dalam Al Qur‟an dan implikasinya dalam kehidupan,ada baiknya pada pendahuluan ini dikemukakan lebih dahulu beberapa pandangan para sufitentang takwa. Pandangan ini dipilih karena dalam aspek-aspek kajian keislaman lainnya kitabelum banyak menjumpai secara khusus pembahasan yang berkaitan dengan takwa.Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudry mengatakan bahwa seseorangpernah meminta nasehat kepada Rasulullah, lalu beliau mengatakan: “Engkau harusmempunyai ketakwaan kepada Allah, karena ketakwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan.Engkau harus melaksanakan jihad, karena jihad adalah kerahiban kaum muslim. Dan engkauharus dzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu”. (HR. Abu Ya‟la).Taqwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakekatnya adalah “bahwa seseorangmelindungi dirinya dari hukuman Tuhan dengan kepatuhan dan ketundukan kepada-Nya.Asal usul taqwa adalah menjaga diri dari syirik, kejahatan dan dosa, dan dari hal-hal yangsyubhat, yaitu yang diragukan tentang halal dan haramnya.Karena itu, Al Muhasibi (W. 243 H/857 M) mengatakan bahwa para sufi sepakat berpendapatbahwa kebahagiaan hamba di dunia dan akhirat tergantung pada nilai ketaqwaannya kapadaAllah SWT., dan bukti utama ketaqwaan ialah bersikap wara‟ terhadap larangan-laranganAllah, mematuhi perintahnya dan selalu menjaga kesucian hati dari segala yang tidak disukai-Nya. Yang dimaksud dengan wara‟ oleh Ibrahim bin Adham (w. 161 H/777 M), ialah“meninggalkan segala sesuatu yang meragukan dari yang tidak berarti, meninggalkan yangdiharamkan, yang makruh dan bahkan yang tidak diperlukan oleh agama”.Menurut para sufi, menjaga diri dari yang syubhat merupakan kunci untuk pembuka pintudan jalan yang akan mengantarkan kita kepada taqwa, sedangkan wara‟ akan mengantarkankita ke maqam (tingkatan) tertinggi taqwa. Betapa pentingya kehidupan wara‟ untukmencapai taqwa, ditegaskan oleh Nabi bahwa “seseorang tidak akan mencapai derajatketakwaan sehingga dia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena dikhawatirkan akanmembawa kepada dosa” (HR. Turmidzi, Ibn Majah dan al Hakim).Untuk merealisasikan kehidupan wara ini, Nabi sangat tegas memberikan pendidikanterhadap keluarganya “Pada suatu hari al Hasan bin Ali ra. Mengambil sebutir buah kurma diantara kurma sedekah, waktu itu al Hasan masih kecil, lalu Nabi SAW bersabda kepadanya:“Letakkan! Letakkan!”. (HR. Bukhari).

25. TANDA-TANDA TAQWA. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali‟Imran Ayat 133:Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah SWT) dan surgayang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yangtaqwa (muttaqin).Selanjutnya Allah SWT menguraikan tanda-tanda orang yang taqwa, dalamSurat Ali‟Imran Ayat 134:(yaitu) Orang-orang yang berinfaq (karena Allah SWT), baik diwaktu lapangmaupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mereka yangpemaaf terhadap (kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yangberbuat kebajikan.Marilah terlebih dahulu kita coba memahami apakah itu Taqwa. Taqwa memilikitiga tingkatan. Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah, dia disebut orang yang taqwa. Didalampengertian ini semua orang beriman tergolong taqwa meskipun mereka masihterlibat beberapa dosa. Jika seseorang menjauhi segala hal yang tidak disukaiAllah SWT dan RasulNya (SAW), ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi.Yang terakhir, orang yang setiap saat selalu berupaya menggapai cinta AllahSWT, ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi lagi.Allah SWT menjelaskan dalam Surat Ali‟Imran Ayat 102:Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaanMuslim (beragama Islam)Allah SWT telah menjabarkan berbagai ciri-ciri orang yang benar-benar taqwa.Mereka menafkahkan rizkinya di jalan Allah SWT dalam keadaan lapang maupunsempit. Dengan kata lain, jika mereka memiliki uang seribu dollar diinfaqkannyapaling tidak satu dollar, dan jika hanya memiliki seribu sen mereka infaqkansatu sen. Menafkahkan rizki di jalan Allah SWT adalah jalan-hidup mereka. AllahSWT (atas kehendakNya) menjauhkan mereka dari kesulitan (bala‟) kehidupanlantaran kebajikan yang mereka perbuat ini. Lebih dari itu, seseorang yang sukamenolong orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain,malahan ia lebih suka berbuat kebaikan bagi sesamanya. „Aisyah RA sekaliwaktu pernah menginfaqkan sebutir anggur karena pada waktu itu ia tidak memiliki apa-apa lagi. 

26. Beberapa muhsinin (orang yang selalu berbuat baik)menginfaqkan sebutir bawang. Nabi Muhammad SAW bersabda:“ Selamatkanlah dirimu dari api nereka dengan berinfaq, meskipun hanyadengan sebutir kurma. (Bukhari & Muslim)Didalam “Tafsir Kabir” Imam Razi diceritakan bahwa suatu kali Nabi MuhammadSAW mengajak umatnya untuk berinfaq. Beberapa dari mereka memberikanemas dan perak. Seseorang datang hanya menyerahkan kulit kurma, “Saya takmemiliki selain ini.” Seorang lain lagi mengatakan kepada Nabi MuhammadSAW, “Saya tak punya apapun untuk diinfaqkan. Saya infaqkan harga-diri saya.Jika ada seseorang menganiaya atau mencaci-maki saya, saya tidak akanmarah.” Demikianlah, kita dapat mengambil pelajaran bahkan orang miskin punterbiasa memberikan apapun yang dia miliki untuk menolong orang lain di masahidup Rasulullah SAW.Ayat diatas tidak menjelaskan apa yang harus diinfaqkan. Berinfaq tidak hanyaberarti sebagian dari hartanya tetapi juga waktu dan keahlian. Adakebijaksanaan yang besar dalam penjabaran mengenai mukmin yang shalehyang berinfaq dikala lapang maupun sempit. Kebanyakan orang melupakan AllahSWT ketika berada dalam keadaan sangat lapang. Mereka juga lupa kepadaAllah SWT dikala sempit karena terlalu larut dalam kesedihan menanggungkesempitannya.Seorang penyair berbahasa urdu berujar, “Jangan menganggap seseorang ituterpelajar bilamana ia melupakan Allah SWT diwaktu ia kaya, tidak takut kepadaAllah SWT ketika ia sedang marah.”Allah SWT menyatakan bahwa tanda ketaqwaan mukmin yang ke-dua ialahmereka dapat mengendalikan amarah. Tanda ke-tiga, selain mengendalikanamarah mereka juga memaafkan kesalahan orang lain dengan sepenuh hati.Terakhir (ke-empat), yang tidak kalah pentingnya, mereka bersikap baikterhadap sesama manusia. Ketika Imam Baihaqi RA menjelaskan ayat ini, iamengisahkan sebuah peristiwa. Dikatakannya, “Suatu ketika Ali bin Hussain RAsedang berwudhu dan pelayannya yang menuangkan air ke tangannyamenggunakan bejana. Bejana terlepas dari pegangan pelayan itu dan jatuhmengenai Ali. Sang pelayan menangkap kekecewaan di wajah Ali. Dengancerdiknya sang pelayan membaca ayat diatas kata demi kata. Ketika sampaipada kalimat „orang yang taqwa mengendalikan amarahnya‟ Ali RA menelanamarahnya. Ketika sampai pada „mereka memaafkan orang lain‟ Ali RA berkata,“Aku memaafkanmu” Dan ketika dibacakan bahwa Allah SWT mencintai merekayang bersikap baik kepada orang yang melakukan kesalahan, Alimemerdekakannya.Memaafkan orang lain akan mendapatkan pahala yang besar di HariPembalasan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT akan memberikanpengumuman di Hari Pembalasan, barang siapa yang memiliki hak atas Allah SWT agar berdiri sekarang. 

27. Pada saat itu berdirilah orang-orang yangmemaafkan orang-orang kejam yang menganiaya mereka. Nabi MuhammadSAW juga bersabda, “Barang siapa berharap mendapatkan istana yang megah disurga dan berada di tingkatan yang tinggi dari surga, hendaknya merekamengerjakan hal berikut ini:• Memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya kepada mereka.• Memberi hadiah kepada orang yang tidak pernah memberi hadiah kepadamereka.• Jangan menghindari pertemuan dengan orang-orang yang dengan sengajamemutuskan hubungan dengan mereka.Dalam kesempatan ini tidaklah salah tempat untuk mengingatkan anda bahwasesama Muslim hendaknya saling memberi hadiah sesering mungkin sesukamereka. Hal ini hendaklah menjadi kebiasaan, dan janganlah membatasi di hari-hari spesial sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak beriman padaperayaan Natal dan Pernyataan Syukur (thanksgiving).Allah SWT memberi petunjuk dengan sangat indah bagaimana hendaknya kitaberperilaku terhadap musuh-musuh kita yang paling jahat dalam SuratFushshilat Ayat 34:Tidaklah sama perbuatan baik dengan perbuatan jahat. Jika kamu membalasperbuatan jahat dengan kebaikan, maka musuh-musuhmu yang paling kerasakan menjadi teman karib dan sejawatmu.Suatu ketika, seseorang berbuat kasar dan mencaci-maki Imam Abu Hanifah.Beliau tidak membalas dengan sepatah-katapun padanya. Ia pulang ke rumahdan mengumpulkan beberapa hadiah, lalu pergi mengunjungi orang tersebut.Imam Abu Hanifah memberikan hadiah-hadiah itu kepadanya danberterimakasih atas perlakuan orang itu kepadanya seraya berkata: “Kamu telahberbuat untukku hal yang sangat aku sukai, yaitu memindahkan catatanperbuatan baikmu menjadi catatan perbuatan baikku dengan cara berlaku kasarseperti tadi kepadaku.”Lebih lanjut Allah SWT berfirman didalam Surat Ali‟Imran Ayat 135 dan 136,menambahkan tanda-tanda ketaqwaan orang-orang beriman.Ketika mereka (orang-orang beriman) itu terlanjur berbuat jahat atau aniaya,mereka ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dantidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. Dan mereka tidaktetap berbuat aniaya ketika mereka mengetahui.Untuk mereka balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka, dan surga yangmengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal didalamnya. Itulah sebaik-baikpahala atas amal-perbuatan mereka.Perhatikanlah bahwa dalam ayat ini ampunan Allah SWT mendahului balasanmasuk surga. Maka, dari ayat ini jelaslah bahwa untuk masuk surga haruslahmelalui ampunan dan kasih-sayang Allah SWT dan bukan tergantung pada amal-perbuatan kita saja. Perlu juga kita garis- bawahi, Allah SWT berfirman bahwabobot surga itu jauh lebih berharga dari gabungan bumi dan seluruh langit.

28. Hal ini bisa memberikan pengertian lain dari ayat ini. Jika lebar surga sama denganlebar langit dan bumi, bagaimanakah dengan panjangnya, sedangkan ukuranpanjang selalu lebih besar daripada lebar. Singkat kata, ayat ini memberikanpernyataan bahwa surga itu telah dipersiapkan bagi orang-orang beriman yangtelah mencapai tingkat taqwa. Menurut beberapa ulama muslim yangtermasyhur, surga itu berada diatas langit ke-tujuh dan jiwa para syuhada telahmenikmati surga sebagai hasil dari perjuangan mereka.Saya berdo‟a kepada Allah SWT, semoga Dia menjadikan kita mukmin yangbertaqwa dan menerapkan keimanan kita. Amiin

29. IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA DALAM KEHIDUPAN MODERN I. PEMBAHASANA. Pengertian Iman dan TaqwaIman yang berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati.Secara sempurna pengertiannya adalah membenarkan (mempercayai) Allah dan segala apayang datang dari pada-Nya sebagai wahyu melalui rasul-rasul-Nya dengan kalbu,mengikrarkan dengan lisan dan mengerjakan dengan perbuatan.Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinyaberhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwapasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNyadalam kehidupan ini.B. Wujud Iman dan TaqwaAkidah Islam dalam al-Quran disebut iman. Iman bukan hanya berarti percaya melainkankeyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan imansangat luas.Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia terikat dengan aturan hukumyang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi seorang muslim berarti meyakini danmelaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam.Menjaga mata, telinga, pikiran, hati dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama,merupakan salah satu bentuk wujud seorang muslim yang bertaqwa. Karena taqwa adalahsebaik–baik bekal yang harus kita peroleh dalam mengarungi kehidupan duniaC. Proses terbentuknya ImanPada dasarnya, proses pembentukan iman. Diawali dengan proses perkenalan, mengenalajaran Allah adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidakmengenal ajaran Allah maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah.Disamping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena tanpapembiasaan, seseorang bisa saja seorang yang benci menjadi senang. Seorang anak harusdibiasakan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan menjahui larangan Allah agar kelaknanti terampil melaksanakan ajaran Allah.D. Korelasi Keimanan dan KetakwaanKeimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi dua yaitutauhid teoritis dan tauhid praktis.

30. Tahuid teoritis adalah tahuid yang membahas tentang keesaan Zat, sifat dan Perbuatan Tuhan.Adapun tahuid praktis yang disebut juga tauhid ibadah berhubungan dengan amal dan ibadahmanusia.Tahuid praktis merupakan penerapan dari tauhid toritis. Seperti dengan kata lain, tidak adayang disembah selain Allah , atau yang wajib disembah hanyalah Allah semata yangmenjadikan-Nya tempat tumpuhan hati dan tujuan gerak langkah. Oleh karena itu seseorangbaru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat tahuid dandengan mengamalkan semua perintah Allah dan menjahui larangannya.E. Implementasi Iman dan TakwaProblematika, Tantangan, dan Risiko dalam Kehidupan ModernMasalah sosial budaya merupakan masalah alam pikiran dan realitas hidup masyarakat. Alampikiran bangsa Indonesia adalah majemuk, sehingga pergaulan hidupnya selalu dipenuhikonflik dengan sesama orang Islam maupun dengan non-Islam.Pada zaman modern ini, dimungkinkan sebagian masyarakat antara yang satu dengan yanglainnya saling bermusuhan, yaitu ada ancaman kehancuran.Adaptasi modernisme, kendatipun tidak secara total yang dilakukan bangsa Indonesia selamaini, telah menempatkan bangsa Indonesia menjadikan bangsa Indonesia menjadi pengkhayal.Oleh karena itu, kehidupannya selalu terombang-ambing.Secara ekonomi bangsa Indonesia semakin tambah terpuruk. Hal ini karena di adaptasinyasistem kapitalisme dan melahirkan korupsi besar-besaran. Sedangkan di bidang politik, selalumuncul konflik di antara partai dan semakin jauhnya anggota parlemen dengan nilai-nilaiqur‟ani, karena pragmatis dan oportunis.Di bidang sosial banyak munculnya masalah. Berbagai tindakan kriminal sering terjadi danpelanggaran terhadap norma-norma bisa dilakukan oleh anggota masyarakat. Lebihmemprihatinkan lagi adalah penyalagunaan NARKOBA oleh anak-anak sekolah, mahasiswa,serta masyarakat.Persoalan itu muncul, karena wawasan ilmunya salah, sedang ilmu merupakan roh yangmenggerakan dan mewarnai budaya. Hal itu menjadi tantangan yang amat berat danmenimbulkan tekanan.Sebagian besar permasalahan sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam kehidupanmodern yang serba mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh. Setiap detik dalamkehidupan umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang agamanya akan tetapisangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius yang kurangmendukung.Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam terdahulu yang kental dalamkehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu itu yang cukup mendukung kualitas imanseseorang. Olah karenanya dirasa perlu mewujudkan satu konsep khusus mengenai pelatihanindividu muslim menuju sikap taqwa sebagai tongkat penuntun yang dapat digunakan(dipahami) muslim siapapun. Karena realitas membuktikan bahwa sosialisasi taqwa sekarang,

31. baik yang berbentuk syariat seperti puasa dan lain-lain atau bentuk normatif seperti himbauankhatib dan lain-lain terlihat kurang mengena, ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya :Muslim yang bersangkutan belum paham betul makna dari taqwa itu sendiri, sehinggamembuatnya enggan untuk memulai, · Ketidaktahuannya tentang bagaimana, darimana dan kapan dia harus mulai merilis sikap taqwa, · Kondisi sosial dimana dia hidup tidak mendukung dirinya dalam membangun sikap taqwa.Oleh karenanya setiap individu muslim harus paham pos – pos alternatif yang harusdilaluinya, diantaranya yang paling awal dan utama adalah gadhul bashar (memalingkanpandangan), karena pandangan (dalam arti mata dan telinga) adalah awal dari segalatindakan, penglihatan atau pendengaran yang ditangkap oleh panca indera kemudianditeruskan ke otak lalu direfleksikan oleh anggota tubuh dan akhirnya berimbas ke hatisebagai tempat bersemayam taqwa.Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari persoalan tersebut, perlu diadakan revolusipandangan. Dalam kaitan ini, iman dan takwa berperan menyelesaikan problema dantantangan kehidupan modern tersebut.F. Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan KehidupanModern · Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda · Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut · Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan · Iman memberikan ketenangan jiwa · Iman memberikan kehidupan yang baik · Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen · Iman memberikan keberuntungan · Iman mencegah penyakit II. KESIMPULANHubungan religiusitas dan modernisasi (industrialisasi) merupakan persoalan rumit yangbanyak menimbulkan kontroversi, khususnya di kalangan ilmuwan sosial. Suatu ungkapanyang hampir menjadi stereotip dalam percakapan sehari-hari menggambarkan seolah-olahagama merupakan hambatan terhadap proses modernisasi dan industrialisasi. Meskipun padabeberapa kasus mungkin asumsi itu benar, misalnya ada agama yang menentang programKeluarga Berencana (KB) padahal menurut para ahli mutlak diperlukan di negara-negaraberkembang. Tetapi generalisasi bahwa agama merupakan rintangan modernisasi danindustrialisasi tidak dapat dibenarkan.Dengan adanya hubungan yang dinamis antara agama dan modernitas, maka diperlukanupaya untuk menyeimbangkan pemahaman orang terhadap agama dan modernitas.Pemahaman orang terhadap agama akan melahirkan sikap keimananan dan ketaqwaan(Imtaq), sedang penguasaan orang terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di eramodernisasi dan industrialisasi mutlak diperlukan. Dengan demikian sesungguhnya yangdiperlukan di era modern ini tidak lain adalah penguasaan terhadap Imtaq dan Iptek sekaligus. 
32. Salah satu usaha untuk merealisasikan pemahaman Imtaq dan penguasaan Ipteksekaligus adalah melalui jalur pendidikan. Dalam konteks inilah pendidikan sebagai sebuahsistem harus didesain sedemikian rupa guna memproduk manusia yang seutuhnya. Yaknimanusia yang tidak hanya menguasai Iptek melainkan juga mampu memahami ajaran agamasekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Dari uraian pembahasan yang telah diutarakan, kiranya dapat diambil beberapa kesimpulansebagai berikut;Pertama, perana agama pada masa modern dirasakan masih sangat penting, bahkanmenunjukkan gejala peningkatan. Fenomena kebangkitan agama di antaranya dapat diamatidari maraknya kegiatan-kegiatan keagamaan dan larisnya buku-buku agama. Fenomena inisetidaknya dipengaruhi oleh beberapa hal seperti adanya kesadaran providensi setiapindividu, ketidakberhasilan modernisasi dan industrialisasi dalam mewujudkan kehidupanyang lebih bermakna (meaningful). Di samping itu, kegagalan organized religions dalammewujudkan agama yang bercorak humanistik, juga disinyalir turut mendorong praktikspiritualitas era modern.Kedua, agama tetap akan memegang peranan penting di masa mendatang, terutama dalammemberikan landasan moral bagi perkembangan sains dan teknologi. Dalam kaitan ini perluditekankan pentingnya usaha mengharmoniskan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek)dengan agama (Imtaq). Iptek harus selalu dilandasi oleh nilai-nilai moral-agama agara tidakbersifat destruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan (dehumanisasi). Sedangkan ajaran agamaharus didekatkan dengan konteks modernitas, sehingga dapat bersifat kompatibel dengansegala waktu dan tempat.Pada dasarnya dalam kehidupan modern, kita sebagai manusia tidak bisa terlepas dari imandan taqwa. Karena dengan kita beriman dan bertaqwa, kita dapat mencegah danmenyelamatkan diri dari hal-hal yang menyesatkan atau dari segala sesuatu yang tidakbaik. Selain itu, kita juga dapat menentukan apakah modernisasi tersebut dianggap sebagaisuatu kemajuan atau tidak, dipandang bermanfaat atau tidak, diperlukan atau sebaliknya perlu dihindari.

33. Buah Taqwa, Diberikan Didunia Dan AkhiratTanbihun - Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada baiknya kita simak dulu pengertiantaqwa itu sendiri yang sudah didefinisikan oleh beberapa sahabat Rasulullah Sallallahu‟alaihiWasallam.Pengertian taqwa menurut,Ali bin Abi Thalib Radliyallahu „Anhu : “Taqwa adalah takut kepada Allah Al-Jalil (YangMaha Agung), mengamalkan tanzil (Al-qur‟an), rela dengan Al-Qalil (yang sedikit) danbersiap-siap menuju Ar-Rahil (kematian).”Ibnu Abbas Radliyallahu „Anhu: “Taqwa adalah orang yang takut kepada Allah dansiksanya.”Ibnu Ma‟ud Radliyallahu „Anhu: “Taqwa adalah taat kepada-Nya semata dan tidakbermaksiat kepada-Nya, selalu mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, serta bersyukurterhadap nikmat-Nya.”Thalaq bin Habib Radliyallahu „Anhu: “Taqwa adalah beramal dengan mentaati Allah diatascahaya dari-Nya dengan mengharap pahala dari-Nya dan meningggalkan maksiat kepada-Nya diatas cahaya dari-Nya karena takut sangsi-Nya.”Jadi makna taqwa menurut definisi-definisi diatas dapat disimpulkan, taqwa adalahmemelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhisegala larangan-Nya.

34. Buah Dari KetaqwaanDiberikan didunia: 1. Taqwa menyebabkan mudah dalam menghadapi permasalahan (yang dihadapi) manusia. (QS. At-Thalaq : 4) 2. Taqwa menyebabkan manusia terlindung dari gangguan syetan. (QS. Al-A’raf : 201) 3. Taqwa menyebabkan terbukanya berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf : 96) 4. Taqwa menyebabkan seseorang hamba dapat mengetahui dan membedakan antara haq dan bathil. (QS. Al-Anfal : 29) 5. Taqwa menyebabkan keluarnya seseorang dari suatu kesempitan dan mendapatkan kelapangan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. At-Thalaq : 2-3) 6. Taqwa menyebabkan diperolehnya kekuasaan, karena para wali Allah adalah mereka yang bertaqwa kepada-Nya. (QS. Al-Anfal : 34) 7. Taqwa menyebabkan hilangnya rasa takut dari marabahaya dan tipu daya orang-orang kafir.(QS. Ali-Imran : 120) 8. Taqwa menyebabkan diperolehnya pertolongan dari langit ketika masa-masa kritis/bahaya dan ketika sedang berhadapan dengan musuh. (QS. Ali-Imran : 123-125) 9. Taqwa menyebabkan sirnanya permusuhan dan kebiasaan menyakiti hamba Allah. (QS. Al- MAidah : 2) 10. Taqwa menjadikan sebab baiknya amal hingga dapat diterima amalan tersebut dan diampuni dosa-dosa pelakunya. (QS. Al-Ahzab : 70-71) 11. Taqwa menjadikan sebab teraihnya ilmu. (QS. Al-Baqarah : 282) 12. Taqwa menyebabkan diperolehnya kebaikan. (QS. Thaha : 132) 13. Taqwa menyebabkan orang terhindar dari sifat dzalim dan aniaya dalam masalah wasiat. (QS. Al-Baqarah : 180) 14. Taqwa menyebabkan diberikannya mut’ah (pemberian) nafaqoh kepada wanita-wanita yang diceraikannya. (QS. Al-Baqarah : 241) 15. Taqwa menyebabkan turunnya hidayah. (QS. Al-Baqarah : 1-2)Diberikan di akhirat: 1. Mendapat kemuliaan disisi Allah. (QS. AL-Hujurat : 13) 2. Mendapat kemenangan dan keberuntungan (QS. An-Nur :52) 3. Akan selamat dari siksa Allah pada hari kiamat. (QS. Maryam :71-72) 4. Akan diterima segala amal ibadahnya. (QS. Al-Maidah :27) 5. Dengan taqwa seorang yang muttaqin akan mendapat warisan jannah. (QS. Maryam : 63) 6. Dengan taqwa mereka akan dimuliakan dan diangkat derajatnya pada hari kiamat lebih tinggi dari orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 212) 7. Dengan taqwa akan dihapus semua kejelekan dan diampuni seluruh tindakan dosa. (QS. At- Thalaq : 5) 8. Dengan taqwa akan mendapatkan segala kenikmatan dan kesenangan di Al-Jannah. (QS. An- Nahl : 31) 9. Dengan taqwa surge akan selalu dekat dengan mereka. (QS. Asy-Syu’ara :90) 10. Taqwa menjadi pembeda antara orang-orang taqwa dengan orang-orang kafir. (QS. Shad :28) 11. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa baginya pahala dan kebaikan yang berlipat ganda. (QS. Al-Hadid : 28)

35. 12. Baginya berita gembira dalam kehidupan akhirat tanpa adanya keresahan atau kesusahan dan akan berjumpa dengan malaikat. (QS. Yunus : 24-26 dan QS. Al-Anbiya’ : 103)13. Dengan taqwa akan mendapatkan naungandari pohon-pohon syurga dengan segala kenikmatannya. (QS. Al-Mursalat : 41-43)14. Semua sahabat dekat (ketika didunia) akan berbalik menjadi musuh bagi sebagian yang lain pada hari kiamat, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (QS. Az-Zukhruf :67)15. Dengan taqwa tidak aka nada rasa hawatir, takut, berduka cita dan mereka tidak akan mendapat kejelekan di hari kiamat. (QS. Yunus :62-63)
36. TAQWAOlehSyaikh Dr Fadhl IlahiTermasuk sebab turun rizki ialah taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini –dgnmemohon taufiq dari Allah- dalam dua bahasan.Pertama : Makna TaqwaKedua : Dalil Syar’i Bahwa Taqwa Termasuk Kunci RizkiPertama : Makna TaqwaPara ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yg dimaksud dgn taqwa. Di antaranya, ImamAr-Raghib Al-Asfahani mendenifisikan : “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari peruntukanyg memuntuk berdosa, dan itu dgn meninggalkan apa yg dilarang, dan menjadi sempurna dgnmeninggalkan sebagian yg dihalalkan― [Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an,hal 531]Sedangkan Imam An-Nawawi mendenifisikan taqwa dgn “Menta’atiperintah dan laranganNya―. Maksud menjaga diri dari kemurkaan dan adzab AllahSubhanahu wa Ta’ala [Tahriru AlFazhil Tanbih, hal 322]. Hal itu sebagaimanadidefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “ Taqwa yaitu menjaga diri dari siksa Allah dgnmenta’atiNya. Yakni menjaga diri dari pekerjaan yg mengakibatkan siksa, baik dgnmelakukan peruntukan atau meninggalkannya” [Kitabut Ta’rifat, hl.68]Karena itu siapa yg tdk menjaga diri dari peruntukan dosa, berarti dia bukanlah orang ygbertaqwa. Maka orang yg melihat dgn kedua mata apa yg diharamkan Allah, ataumendengarkan dgn kedua telinga apa yg dimurkai Allah, atau mengambil dgn kedua tanganapa yg tdk diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yg dikutuk Allah, berarti ia tdk menjagadiri dari dosa.Jadi, orang yg membangkang perintah Allah serta melakukan apa yg dilarangNya, dia bukantermasuk orang-orang yg bertaqwaOrang yg menceburkan diri kedalam maksiat sehingga ia pantas mendpt murka dan siksa dariAllah, maka ia telah mengelurakan diri dari barisan orang-orang yg bertaqwa.Kedua : Dalil Syar’i, Bahwa Taqwa Termasuk Kunci Rizki

37. Beberapa nash yg menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab rizki, di antaranya.[1]. Firman Allah“Arti : Barangsiapa bertaqwa kpd Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluarbagi dan memberi rizki dari arah yg tdk disangka-sangka― [At-Thalaq : 2-3]Dalam ayat diatas, Allah menjelaskan bahwa orang yg merelaisasikan taqwa akan dibalasAllah dgn dua hal.Pertama.“Allah akan mengadakan jalan keluar baginya― Artinya, Allah akanmenyelamatkan –sebagaimana di katakana Ibnu Abbas Radhiyallahu‘anhuma- dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat. [Lihat Tafsir Al-Qurthubi,18/159, Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata : “Dia memberi jalan keluar darisetiap apa yg menyesakkan manusia― (Zadul Masir, 8/291-292 ; Lihat pula, TafsirAl-Baghawi, 4/357 dan Tafsir Al-Khazin, 7/108]Kedua.“Allah akan memberik rizki dari arah yg tdk disangka-sangka―. Artinya,Allah akan memberi rizki yg tak pernah ia harapkan dan angankan. [Lihat, Zaadul Masir,8/291-292]Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsir mengatakan :―Maknanya, barangsiapa ygbertaqwa kpd Allah dgn melakukan apa yg diperintahkanNya dan meninggalkan apa ygdilarangNya, niscaya Allah akan memberi jalan keluar serta rizki dari arah yg tdk disangka-sangka, yakni dari arah yg tdk pernah terlintas dalam benaknya― [Tafsir Ibnu Katsir,4/400]Alangkah agung dan besar buah taqwa itu ! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu‘anhu berkata : “Sesungguh ayat terbesar dalam hal pemberian janji keluarialah.“Arti : Barangsiapa bertaqwa kpd Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluarbaginya” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/400. Lihat pula, Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651][2]. Ayat Lain Adalah Firman AllahArti : Jikalau sekira penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akanmelimpahkan kpd mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayatKami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan peruntukan mereka sendiri― [Al-A’raf : 96]Dalam ayat yg mulia ini Allah menjelaskan, seandai penduduk negeri-negeri merealisasikandua hal, yakni ; iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untukmereka dan memudahkan mereka mendptkan dari segala arah.Menafsirkan firman Allah.

38. “Arti : Pastilah Kami akan melimpahkan kpd mereka berkah dari langit dan bumi,Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan : “Niscaya Kamilapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untukmendptkan dari segala arah― [Tafsir Abi As-Su’ud, 3/253]Janji Allah yg terdpt dalam ayat yg mulia tersebut terhadap orang-orang beriman danbertaqwa mengandung beberapa hal, di antara :[a] Janji Allah untuk membuka “baarakata― (keberkahan) bagi mereka.“al-baarakata” ialah bentuk jama’ dari “al -barakat―. Imam Al-Baghawi berkata, “Ia berarti mengerjakan sesuatu secaraterus menerus [Tafsir Al-Baghawi, 2/183]. Atau seperti Imam Al-Khazin, “Tetapsuatu kebaikan Tuhan atas sesuatu― [Tafsir Al-Khazin, 2/266]Jadi, yg dpt disimpulkan dari makna kalimat “al-barakat― ialah bahwa apayg diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka ialah kebaikan yg terusmenerus, tdk ada keburukan atau konsekuensi apapun atas mereka sesudahnya.Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata : “Adapun orang-orang ygberiman maka apa yg dibukakan untuk mereka ialah berupa berkah dan kenikmatan. Danuntuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kpd Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkankaruaniaNya. Lalu mereka menggnkan di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untukperbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah ialah ditambahberbagai kenikmatan di dunia dan pahala yg baik di akhirat― [Tafsir Al-Manar, 9/25]Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan hal itu dgn ucapan : Makna “al-barakat― ialah kebaikan yg murni yg tdk ada konsekuensi di akhirat. Dan ia ialahsebaik-baik jenis nikmat― [Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 9/22][b] Kata berkah disebutkan dalam bentuk jama’ sebagaimana firman Allah.“Arti : Pastilah Kami akan melimpahkan kpd mereka berbagai berkah―.Ayat ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukkan banyak berkahsesuai dgn banyak sesuatu yg diberkahi. [Op. cit, 9/22][c] Allah Berfirman.“Arti : Berbagai keberkahan dari langit dan bumi―. Menurut Imam Ar-Razi,maksud ialah keberkahan langit dgn turun hujan, keberkahan bumi dgn tumbuh berbagaitanaman dan buah-buahan, banyak hewan ternak dan gembalaan serta diperoleh keamanandan keselamatan. Hal ini krn langit ialah laksana ayah, dan bumi laksana ibu. Dari keduadiperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah.[At-Tafsirul Kabir, 12/185. Lihat pula, Tafsirul Khazin 2/266 dan Tafsir At-Tahrir waTanwir, 9/22][3]. Ayat Lain Adalah Firman Allah.“Arti : Dan sekira mereka sunguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan(Al-Qur’an) yg diturunkan kpd mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendptmakanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yg pertengahan. 
39. Dan alangkah buruk apa yg dikerjakan oleh kebanyakan mereka― [Al-Ma’idah : 66]Allah Tabaraka wa Ta’ala mengabarkan tentang Ahli Kitab, ‘Bahwaseandai mereka mengamalkan apa yg ada di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an–demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhhiyallahu anhuma dalammenafsirkan ayat tersebut- [1], niscaya Allah memperbanyak rizki yg diturunkan kpd merekadari langit dan yg tumbuh untuk mereka dari bumi. [2]Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi berkata : “Allah menghendaki–wallahu a‘lam- bahwa seandai mereka mengamalkan apa yg diturunkan didalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an, niscaya mereka memakan dari atas dan daribawah kaki mereka. Makna –wallahu a’lam- niscaya mereka diberikelapangan dan kesempurnaan nikmat dunia― [Kitabun Nazhar wal Ahkam fiJami’i Ahwalis Suuq, hal 41]Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Dan sejenis dgn ayatini ialah firman Allah.“Arti : Barangsiapa bertawa kpd Allah, niscaya Dia akan mengadakan bagi jalankeluar dan memberi rizki dari arah yg tiada disangka-sangkanya― [At-Thalaq : 2]“Arti : Dan bahwasa jika mereka tetap berjalan di atas jalan itu (agama Islam), banar-benar Kami akan memberi minum kpd mereka air yg segar (rizki yg banyak)― [Al-Jin : 16]“Arti : Jikalau sekira penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kamiakan melimpahkan kpd mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi― [Al-A’raf : 96]Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antarasebab-sebab rizki dan menjanjikan untuk menambah bagi orang yg bersyukur, Allahberfirman.“Arti : Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmatKu atasmu―[Ibrahim : 7] [Tafsir Al-Qurthubi, 6/241]Karena itu, setiap orang yg menginginkan keleluasaan rizki dan kemakmuran hidup, hendakia menjaga diri dari segala dosa. Hendak ia menta’ati perintah-perintah Allah danmenjauhi larangan-laranganNya. Juga hendak ia menjaga diri dari yg menyebabkan berhakmendpt siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan kebaikan.[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, edisi IndonesiaKunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah hal 19-27, Penerjemah AinulHaris Arifin, Lc. Darul Haq]_________Foote Note.[1] Lihat Tafsir Ath-Thabari 10/463, Al-Muharrar Al-Wajiz 5/152-153, Zadul Maasir 2/395dan Tafsir Ibnu Katsir 2/86][2] Lihat tafsir Ibnu Katsir 2/86, dan Fathul Qadir yg didalam dikatakan,

40. “Penyebutan dari atas dan dari bawah (dalam ayat tersebut) ialah untuk menunjukkanpuncak kemudahan sebab-sebab rizki bagi mereka, juga untuk menunjukkan banyak dankeaneka ragaman jenisnya― 2/85, juga Tafsir At-Tahrir at Tanwir yg didalamdisebutkan, Maksudnya, niscaya mereka diberi rizki dari semua jalan―4/254Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=934&bagian=0Sumber Taqwa : http://alsofwah.or.id

41. Pengertian TakwaArtikel Dari: Portal Komuniti :: Ukhwah.comhttp://www.ukhwah.com/Tarikh: Selasa, 13 April 2004 @ 0:15:27Topik: TazkirahHamka mengatakan dalam taqwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dansebagainya. Rasulullah pernah bertanya kepada Abu Hurairah :" Pernahkah engkau bertemu jalanyang berduri ? Bagaimana tindakanmu pada waktu itu ?" Sahabat tersebut menjawab "Apabila akumelihat duri. Aku menghindar ke tempat yang tidak berduri atau aku langkahi, atau aku mundur".Rasulullah pun bersabda :"Itulah taqwa".Untuk lebih jelas pengertian taqwa terutama aplikasinya dalam kehidupan, sebuah hadits dalamshahih Muslim meriwayatkan sebagai berikut : Sahabat Jabir . a telah berkata :"Pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah. Tiba-tiba datang sekelompok orang yang tidakberpakaian layak dan kelihatan kotor, serta menenteng senjata. Kebanyakan mereka dari BaniMudhar, bahkan dapat dikatakan hampir seluruhnya dari Bani Mudhar. Wajah Rasulullah kelihatansangat prihatin menyaksikan penderitaan dan kefakiran yang menimpa orang-orang tersebut. LaluRasulullah saw keluar! ! ! dan memerintahkan kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan. Sesaatkemudian shalatpun didirikan. Setelah selesai, Rasulullah menyampaikan khutbah: "Wahai umatmanusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dandaripadanya Allah menciptakan istrinya. Dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkanlaki-laki dan perempuan yang banyak. "Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakannamaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim.Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS An Nisaa : 1)."Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap dirimemperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari depan." (QS Al Hasyr : 17)Mendengar khutbah Rasulullah, banyak diantara para sahabat yang kemudian memberikan sedekah.Ada yang memberikan uang dirham dan dinarnya, ada yang bersedekah baju, gandum, kurma,bahkan ada yang memberikan separuh buah kurma! ! ! dan ada seorang Anshar yang membawa

42. sekarung bahan makanan sampai dia tak kuat mengangkatnya. Dan akhirnya banyak orang yangberdatangan memberikan sedekah untuk membantu penderitaan kawannya dari Bani Mudhar,sehingga Rasulullah merasa kewalahan. Lalu Rasulullah bersabda "Barangsiapa membuat sunnahhasanah (perilaku yang baik) di dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahalaorang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa harus mengurangi pahala mereka sedikitpun. Danbarangsiapa membuat sunnah sayiah (perilaku buruk) di dalam Islam, maka dia akan menanggungdosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa harus mengurangi dosa merekasedikitpun."Rasulullah pernah ditanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang cerdas ?" "Orang yang berfikir(menggunakan akalnya)" Jawab Nabi "Lalu siapakah yang baik ibadahnya?" tanya mereka. "Orangyang berfikir(menggunakan akalnya)" Jawab Nabi. "Lalu siapakah yang paling utama ?" tanya merekaselanjutnya. "Orang! ! ! yang selalu berfikir (menggunakan akalnya)" Jawab Nabi kembali. Merekaberkata : "Wahai Rasulullah, bukankah orang yang berfikir itu sempurna akhlaknya, baik tuturkatanya, pemurah tangannya dan tinggi kedudukannya?" Nabi saw menjawab :"Semua itu faktorpenyebab kepuasan di dunia, sedangkan di akhirat yang di sisi Tuhan itu hanya bagi orang yangbertaqwa, orang berfikir (menggunakan akalnya) itulah orang yang bertaqwa, sekalipun kelihatannyarendah hidupnya di dunia."Semoga dengan memahami makna kata taqwa dan penjelasan serta aplikasinya yang diuraikan padadua hadits diatas, insya Allah kita akan mampu dan berusaha untuk mencapai derajat muttaqiin.Badan Dakwah Islamiyah Devon Nana Djumhana

43. Ciri Pribadi TaqwaThursday, 8 April 2010 11:12 | al quran, Analisis | 2 Comments | Read 1609 TimesAllah SWT menurunkan Al-quran sebagai Mu‟jizat yang luar biasa untuk kekasihnya: NabiMuhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril dalam kurun waktu lebih kurang selama23 Tahun. Al-Quran terdiri dari 114 surat, 6666 ayat (berdasarkan perhitungan mayoritasulama, karena ada perbedaan versi [antara perhitungan ulama Syiria, Madinah ataupunBashrah]tentang jumlah ayat dalam Al-Quran yang terdiri dari 30 juz ini), di awali dariUmmu al-Kitab (Al-Fatihah) dan di tutup dengan surat An-Naas. Al-Baqarah sebagai suratkedua, di awal ayat dengan jelas Allah SWT memberikan definisi bahwa Inilah Kitab (Al-Quran), kita di perintahkan untuk tidak memiliki rasa ragu atau tidak percaya kepada isi dankandungan al-Quran, Kenapa? Karena Al-quran tidak di turunkan melainkan sebagaipetunjuk untuk orang-orang yang bertakwa.Kata Petunjuk kalau dalam bahasa arabnya adalah diambil dari lafadz hudan, dimana katahudan ini, masih seakar kata dengan kata hadiah, bermakna; Al-Quran adalah kitab suci yangdiberikan dengan penuh cinta dan rasa kasih sayang, hal ini masih sejalan dengan konsephadiah, apabila seseorang memberikan suatu hadiah untuk kawan dekat, saudara, atau kekasihtercinta, pasti dia akan mengemas secantik mungkin, di balut dengan kertas dan berbagaiaksesoris lainnya, dan disaat memberikan hadiah tersebut tanpa adanya suatu unsur paksaan,melainkan diberikan dengan penuh rasa suka cita, hati damai dan tanpa mengharap imbalanapapun, begitulah sejatinya Allah menurunkan Al-Quran kepada kita sebagai petunjuk(baca:hadiah) untuk orang-orang yang bertaqwa.Definisi taqwa yang sering di jelaskan oleh para ulama adalah Imtisal al-awaamir Wajtinabual-Nawahi (melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya).Seperti yang diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Bashri bahwa taqwa adalah takut danmenghindari apa yang diharamkan Allah, serta menunaikan apa yang diwajibkan-Nya. IbnuQayyim al-Jauziyah mengartikan taqwa dapat di raih oleh orang-orang yang mampumenjadikan tabir penjaga antara dirinya dan neraka. Pandangan ini secara tidak langsungmenyatakan bahwa orang yang bertaqwa tahu hal-hal apa sajakah yang menyebabkan Allahmurka dan menghukumnya kelak di neraka.Konsep taqwa kalau dalam surat Ath-Thalaq, selama ini hanya dijelaskan seputar imbalanakan diberikan jalan keluar (solusi) dalam segala problematika kehidupan, serta akandidatangkannya rezeki dari jalan yang tidak kita sangka, padahal pada ayat selanjutnya masihada 3 point yang dengan tegas di jelaskan, bahwa orang-orang yang bertaqwa selain akanmendapatkan 2 point di atas, Allah SWT juga akan menjadikan segala urusan kehidupannyamenjadi lebih mudah dalam melaluinya, akan dihapuskan segala kekhilafan(perbuatanburuknya), dan meraka akan selalu di lipat gandakan pahalanya dalam setiap amaliyah sholihyang dilakukannya. Begitu mulianya orang-orang yang bertaqwa dalam pandangan sangpenguasa alam raya ini.

44. Rasulullah SAW suatu ketika pernah menasehati Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib, wahai Ali:Shalatlah apabila telah tiba waktunya karena itu akan menunjukkan engkau sebagai pribadiyang bertaqwa. Nasehat ini kalau dalam surat An-Nisa sudah di jelaskan bahwaSesungguhnya Shalat ada pada diri orang-orang yang beriman, dan telah di tetapkanwaktunya. Maka wajar kalau baginda Rasulullah SAW dalam beberapa riwayat di katakan,suatu masa beliau sedang berasyik-masyuk, bersenda gurau dengan para istrinya, tetapiapabila tiba waktu shalat (adzan), Kaannahu Lam Ya‟rifna Walam Na‟rifhu: seakan-akanrasul tidak mengenal kami (para istri), dan kami pun tidak mengenalnya (rasul), beliaulangsung menuju masjid untuk memenuhi panggilan-Nya, dan para istrinya pun langsung ikutberjamaah. Demikian dijaganya arti shalat jamaah oleh rasul dan keluarganya.Besok di akhirat, ada 3 golongan manusia yang berbeda di dalam menjaga shalat jamaahwaktu di dunia:1. Wujuuhuhum Ka al-Kawakib (Wajah seperti bintang)Kelompok ini adalah mereka yang apabila mendengar adzan (panggilan shalat), mereka tidakmelanjutkan aktivitasnya melainkan segera mengambil air wudlu‟ untuk melaksanakanshalat.2. Wujuuhuhum Ka al-Qamar (Wajah seperti bulan)Golongan ini bisa dicapai kepada mereka yang selalu dalam keadaan suci, walaupun belumada panggilan shalat(adzan).3. Wujuuhuhum Ka al-Syams (Wajah seperti Matahari)Golongan eksekutif yang dapat merasakan kenikmatan ini, karena mereka selalu dalamkeadaan suci, dan sudah duduk I‟tikaf di dalam masjid walaupun adzan belumberkumandang.Inilah beberapa tauladan yang dapat mengangkat martabat kita sebagai pribadi yangbertaqwa, yang mampu menjaga dan memelihara suatu hadiah (baca: pesan moral dalam Al-Quran) dari Tuhan-Nya, sehingga menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Sudah sejauhmanakah kita dalam mengaplikasikan hadiah indah dari Allah ta‟ala???Sholli „Ala Muhammad Wa Aalihi

Ada 5 Komentar Pada Artikel » Pengertian : "Iman dan Taqwa"

  1. Replies
    1. artikelnya menarik gan, semoga menambah wawasan untuk kita yang membacanya.


      biar sedikit fresh, mampir gan..
      =========================
      cethar-membahenol.blogspot.com
      =========================

      Delete
  2. Artikel nya bagus sob ,, sangat menginspirasi ,,Thankz ya

    Salam Mencoba Berbagi Informasi

    ReplyDelete